Seiring bergulirnya era reformasi berhembus angin segar kebebasan di berbagai bidang, termasuk bidang informasi . Dengan kebijakan pemerintah yang membuka keran perijinan radio siaran secara bebas dan luas, ditambah kesan/asumsi bisnis jasa radio yang prospektif ( bergengsi dan menguntungkan - meski ini belum tentu benar ), membawa konsekwensi logis bermunculannya radio baru bak cendawan di musim penghujan .

Jumlah RSSN di DIY semula hanya ada 16 stasiun, saat ini telah jauh bertambah hingga jumlahnya mencapai hampir 50 stasiun . Sementara media yang lain juga makin tak mau ketinggalan, media cetak maupun TV swasta pun juga makin bertambah banyak . Memang bila dicermati terdapat nilai plus-minus yang menyertai kondisi/fenomena makin menjamurnya media informasi ini . Disatu sisi jelas memberikan keuntungan bagi masyarakat, oleh karena makin banyaknya alternatif pilihan sarana hiburan/informasi .

Namun hal tersebut bisa berbalik menjadi kerugian, manakala masyarakat tidak mampu memilah dan memilih informasi yang benar-benar positif dan bermanfaat . Di sisi lain, ‘kue iklan’ pertumbuhannya relatif kecil, sementara media yang memperebutkannya semakin banyak . Jelas kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia radio. Khusus untuk DIY yang secara geografis relatif sempit wilayahnya, relatif lebih kecil jumlah penduduknya, serta relatif kecil daya dukung ekonominya, tantangan bagi dunia radio semakin berat dirasakan . Masalahnya, bagaimana menghadapi dan mensiasati tantangan tersebut agar dunia radio siaran tetap mampu bertahan di tengah persaingan yang makin ketat . Jadi jelas dan pasti, kondisi sekarang dunia radio siaran tak lagi cukup sekedar hobby, namun diperlukan upaya kerja keras, pemikiran yang serius serta pengelolaan yang profesional agar radio siaran tetap eksist .

 

Galeri Foto
  • DIREKSI & KARYAWAN
  • OFF AIR
telepon / sms
0274-376470 / 0817272800
kontak online
link partner
Iklan Baris
.